Ingat? Saat saya mengucapkan selamat datang kepada Desember....
Ingat? Saat saya pernah berharap lembaran Desember saya penuh dengan hal-hal yang mencerahkan...
Ingat tulisan
ini ?
saya berani mengatakan dengan pasti bahwa Tuhan telah berbaik hati menganugrahi hari-hari yang yang telah saya lewati...
saya sering mengatakan, -bahkan saya percaya-, salah satu
quote Eleanor Roosevelt ...
"
Yesterday is a history. tomorrow is a mistery. today is a gift. that's why we call it Present"
tak peduli seperti apa masa lalu, tak juga berkutat dalam urusan masa depan. Yang terpenting adalah apa yang kita berikan hari ini. Toh bukan berarti saya tidak peduli dengan masa depan. Masa depan memang misteri, dan sebuah kejutan.Kejutan yang indah. Betapa pun buruknya musibah yang suatu waktu menimpa kita, suatu saat hal itu bisa dengan pasti kita katakan anugrah. Entah kapan, tapi pasti. Untuk mereka yang mau mempelajari setiap makna di balik hari-harinya.
Rupanya saya juga mendapatkan sebuah
Present. Sederhana. Tapi cukup membuat saya merasa sangat 'kecil'.
Izinkan saya memaparkan singkat mengenai berbagai rentetan peristiwa yang mengantarkan saya kepada hadiah itu...
13 Desember
Berkunjung ke Panti Asuhan Taman Harapan Muhammadiyah, Buah Batu Bandung. Menghimpun beberapa teman-teman untuk mengadakan suatu pelatihan merajut dan kerajinan tangan. Sederhana. Bahkan saya pun bukan termasuk salah satu pendatang yang mengajari mereka macam-macam. Menjadi tukang Foto keliling pun cukup membuat saya terpukau ketika menangkap ekspresi antusias mereka. Bagi orang lain, mungkin mereka adalah manifestasi dari apa yang disebut dengan kesepian. Tapi siapa yang tahu, mereka terlihat lebih kaya dengan kegigihan mereka.
14 Desember
Menghadiri kuliah umum bertajuk "Bioteknologi Reproduksi" dengan pemateri Dr. Ir. Baharuddin Tappa, APU dari Puslit Bioteknologi LIPI dan Harris Harlianto seorang embriologist dari RS. Hasan Sadikin Bandung. Pak Baharuddin sendiri membahas mengenai penerapan bioteknologi dalam bidang ternak. sedangkan Pak Harris lebih mengenalkan teknologi pembuatan bayi tabung pada manusia. Terenyuh melihat betapa repotnya proses bayi tabung. Beruntunglah saya dilahirkan normal. Beruntunglah saya bukan bayi mahal, ehm...mungkin.
17 Desember
Menghadiri acara penyambutan Tahun baru Islam di Pusdai. Ustd Yusuf Mansur, Aa Gym, Antonio Syafei, dan Arifin Ilham menjadi pembicara di sana. Anda mungkin tahu bagaimana suasana hiruk pikuk ketika konser musik besar-besaran digelar. yah, mungkin kepadatan manusia disini bisa disamakan dengan konser musik tersebut. Tapi tentu saja, tujuannya mungkin berbeda. Saya merespon kepadatan tersebut dengan menyandarkan diri ke dinding terdekat sambil mengipas-ngipas wajah saya. Panas. Sangat Panas. Semua orang di sana berkontribusi dalam mentransfer panas tubuhnya dalam memenuhi ruangan Masjid. Termasuk saya tentunya.
18 Desember
Hari di mana teman saya kehilangan salah satu orang tuanya.
Speechless. Kaget. yaaah....
what can we do... Saya baru sempat mengunjunginya esok hari. Semoga selalu tabah.
19 Desember
Nonton Sang Pemimpi :)
Truly inspiring! Kalau saya boleh memilih, saya jelas memilih bukunya. bukunya lebih memberikan kapasitas berimajinasi yang lebih tinggi. Tapi untuk masalah
moment, mata saya benar-benar berkaca-kaca ketika Ikal minta maaf kepada ayahnya atas nilai rapornya yang jatuh. atau adegan perpisahan Jimbron dengan kedua sahabatnya... "ini untuk kalian berdua (memberikan 2 celengan kudanya), seperti yang kamu bilang, Rai..., kalian akan pergi dengan kudaku". Dan melelehlah air mata saya...
Masih 19 Desember
Menghadiri sebuah liqa (pengajian) dan bertemu seseorang yang lagi-lagi menginspirasi. Pemilik sebuah panti asuhan anak-anak buangan hasil 'kecelakaan' hubungan badan. Saya terbengong-bengong mendengarnya menceritakan anak-anak tersebut. -yang mungkin tak akan pernah tahu siapa orang tuanya-.
Hari sudah malam saat saya pulang dari liqa. Perjalanan yang cukup jauh untuk sampai ke rumah. Beruntung saya ditemani motor
matic kebanggaan, tidak perlu susah payah cari angkot. Di perjalanan, pikiran dan memori mulai berkecamuk.
Ada apa dengan segala peristiwa yang saya alami?
Mengapa saya tiba-tiba merasa mereka memiliki hubungan satu sama lain?
atau itu hanya kerjaan otak saya saja yang gemar menghubung-hubungkan?
Entahlah....
Namun di sebuah perempatan, saat lampu merah menghalangi saya untuk menerobos jalan,
Saya menemukan sebuah hubungan,
Segala yang saya dapatkan di hari-hari sebelumnya telah mengingatkan saya pada orang tua saya...
Pernahkah terpikir? bahwa kita bisa saja mengharapkan sesuatu untuk masa depan, memilih seseorang sebagai pendamping hidup, dan merencanakan hal-hal lainnya. Tapi kita sama sekali tidak bisa memilih siapa yang menjadi orang tua kita, sama seperti kita tidak bisa memilih hari kematian kita...
Panti asuhan itu mengingatkan saya bahwa saya masih lebih beruntung dalam beberapa hal,
kuliah umum mengenai bayi tabung tersebut mengingatkan saya akan Ibu yang melahirkan saya,
"Pandanglah wajah orang tua kita, doakan mereka..." Dzikir Arifin Ilham kembali mengingatkan saya,
Saya masih bisa melihat mereka duduk di sofa kesukaan mereka, berbeda dengan teman saya pada 18 Desember lalu...
Melihat perjuangan Ikal dan Arai untuk membanggakan Ayah nomor 1 di dunia mereka, saya kembali teringat Ayah saya...
Dan cerita-cerita anak panti asuhan milik sang penyelenggara liqa juga kembali mengingatkan saya....Lagi...Lagi....dan Lagi...
Saya teringat hal lain,
betapa saya belum bisa mempersembahkan apa-apa untuk orang tua saya,
betapa saya bukan anak berjuta potensi untuk mereka,
betapa saya sering sekali mengecewakan mereka,
Seketika air mata saya tumpah,
bersamaan dengan turunnya hujan....
Semakin deras, seiring dengan derasnya hujan...
Saya sempatkan menepi untuk menyelamatkan tas saya dari kebasahan,
Dinginnya malam tidak lagi saya hiraukan,
Tetes demi tetes hujan menerpa wajah saya dan menyamarkan tangisan saya,
Saya membuka helm dan menatap langit,
tersenyum sambil menangis,
DIINGATKAN, itulah hadiah terbesar saya saat ini...
Terima Kasih Tuhan,
telah mengutus langit untuk menemani saya,
Terima Kasih,
dan Maaf...
Saya pun kembali menangis bersama langit...
(gambar dari
sini)