November 27, 2009

Kehilangan Kepala

November 27, 2009 25


"Where's My Head"
by Copeland



Where I hung my coat, it's where I left my head
So you'd be wise to doubt every word I ever said
'Cause I just woke to eat some chocolate
And go straight back, I'll go straight back to bed


Where's my head?
Where's my head?
Where's my head?
Where's my head?

And I'd search for reason I'm awake
To hear this song march, blasphemy I'd take
And the only chance that I have tonight
Is if something that I ate made my dreams not right
And my love shows up in a dress of white

Where's my head?
Where's my head?
Where's my head?
Where's my head?








entahlah...
saya pun lupa dimana saya menaruh kepala saya...

»»  read more

November 25, 2009

Sepotong Makna untuk 25 November 2009

November 25, 2009 12
25 November...yeap! hari ini!
apa yang terjadi hari ini?
mungkin topik ngalor-ngidul saya hari ini akan sangat tidak berstruktur, yahhh....seperti topik-topik sebelumnya   
Mari saya berikan rentetan peristiwa yang terjadi hari ini....
ternyata, hari ini adalah ulang tahun teman sebangku saya sewaktu kelas 1 SMA 
 , waaaah, rupa-rupanya sudah lama kami tidak bersua...

(let's give small birthday cupcake for her )
© Aleksandar Kosev | Dreamstime.com


bertepatan dengan hari jadi teman saya, setelah diingat-ingat lagi....hari ini juga genap 5 tahun saya berkerudung . bukan waktu yang sebentar, tapi juga tidak terasa...saya lupa bagaimana awalnya saya bisa memutuskan untuk berkerudung,,,,tapi inilah saya, merasa nyaman dengan semuanya. Alhamdulillah... 
terlepas dari apa yang dikenakan, saya tetaplah saya yang gemar ngalor-ngidul 
pagi ini, saya disuguhi dengan ujian berat.....5 Bab materi anatomi dan fisiologi tubuh manusia menanti saya di ruang kuliah.sampai detik ini pun, rupanya materi syaraf masih terngiang-ngiang di benak saya, yup! stuck in my head! walaupun hal itu belum tentu menjamin nilai saya tinggi...
selang beberapa jam setelah ujian, seseorang memberi saya oleh-oleh...hohoho,terima kasih...padahal saya bercanda sewaktu memintanya 
setelah mengambil oleh-oleh, saya pergi ke perpustakaan kampus, bukan karena saya sejenis mahasiswa yang rajin. tapi justru karena tidak ada anak kost yang siap menampung kami hari ini   yaaahh,beginilah jika jeda kuliah begitu menyiksa...tapi ternyata ada untungnya, saya jadi menemukan ide untuk skripsi  
setelah pulang kuliah rupanya saya teringat suatu tempat...sudah lama saya tidak menyambangi Zoe Corner...
ahh,sesekali boleh lah saya meminjam buku di sana...mencoba memberi reward untuk otak saya karena sudah  kepusingan didera ujian pagi tadi...
dan buku yang saya pilih adalah LIFE OF PI...yaaaaaah, memang telat sekali rupanya saya membaca buku ini...ahh, tapi kalau saya menyerahkan hidup saya untuk selalu up-to-date mengejar buku baru, bisa gila saya dibuatnya...

(sumber gambar di link ini)


yaaahhh....itulah yang terjadi...
tapi terlepas dari hal-hal yang tidak nyambung di atas...
HARI INI ADALAH HARI GURU!
hari yang penting untuk mereka yang dielu-elukan atau bahkan dihina...
bahkan perayaan untuk hari guru di Bandung pun dilakukan dengan tumpengan...(klik link ini)
apa yang tersirat di benak Anda ketika mendengar kata guru?
mungkin profesi-yang-tidak-menjanjikan menjadi salah satu predikat yang melekat (pada benak sebagian orang). yahhh, mungkin memang profesi yang biasa-biasa saja, tapi tidak menurut saya...dan mungkin juga tidak di mata Tuhan  


berbahagialah untuk mereka yang berguru, membahagiakan guru, dan menjadi guru   
»»  read more

November 22, 2009

Tragedi Gelang Patah @ KICKFEST 2009

November 22, 2009 18
yiipiiiiee! KICKFEST,  this is one of the biggest weekend event in Bandung now! 
Jumat kemarin, tepatnya tanggal 20 Nov 2009 saya menyempatkan diri untuk datang ke event tersebut. jalan-jalan menikmati sore saja, walaupun sore itu didera hujan deras yang tak kunjung berhenti. bertiga bersama teman saya, Indah dan Lidya, kami nekat menghajar gerimis untuk bisa sampai kesana. sedikit maksa? ya! tapi biarlah, kadang-kadang toh kami rela melakukan apapun asal bisa have fun bukan? :D 
ajang expo clothing Indonesia tersebut berlokasi di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). dengan temanya yang berbunyi Speak Louder, menurut saya Kickfest benar-benar berhasil menyuarakan identitas Indonesia dengan brand serta band yang memang pantas disebut local heroes (hahaha, maaf saya mengutip salah satu judul segmen di radio Prambors Bandung).
mungkin saya tidak akan panjang lebar memaparkan laporan pandangan mata mengenai situasi di sana. karena akan banyak sekali situs berita, status facebook, twitter, dan blog-blog lainnya yang akan membahasnya dengan lebih tajam. :)
saya hanya akan membahas mengenai kebodohan yang sempat kami dan saya lakukan di event tersebut. bukan maksud berbangga hati, tapi nampaknya akan   ada yang mengganjal jika hanya disimpan di dalam hati (owh,lebay sekali).


jujur saja saya memang tidak terlalu berniat shoping, misalnya dompet tertinggal pun tidak masalah asal camera digital tidak tertinggal (wahwah,terlihat sekali niat saya hanya untuk foto-foto :D ). hiruk-pikuk manusia juga membuat saya kebingungan, sampai-sampai susah sekali membedakan antara orang asli dengan manequin :p
ketika kami sudah kelar memutari bagian indoor, akhirnya kami menemukan titik-titik penting untuk berfoto, dan inilah beberapa hasilnya :D










(kiri-kanan : Indah, Lidya, saya. weeeew...mask party!)








(berfoto di salah satu stand, walaupun sempat malu karena menjadi tontonan sekilas :D)



(heyyy...teman saya pun sempat berfoto dengan vokalis Pure Saturday!)


setelah iseng berkeliling, kami kembali memutari kawasan indoor karena ternyata sore itu  hujan dan kita tidak sempat memutari bagian outdoor. saya sempat melewati stand Anonim, dan melihat-lihat (emhh...sedikit megang-megang juga sih) asesoris yang dipajang. sambil ngobrol ngalor-ngidul saya mencoba memakai salah satu gelang yang dipajang bertuliskan 'I love Bandung'...ternyata kecil sekali....aduh....susah juga...emmhh (sedikit memaksa)...TRAKK!!!...dan gelang itu pun patah....


kepanikan luar biasa pun datang. saya tiba-tiba berteriak-teriak kepada mbak-mbak yang ada di kasir, "iya mbak,iya mbak....saya bayar!saya bayar!", dengan wajah panik. padahal mbak-mbaknya pun tidak akan sadar kalau saya tidak ribut. :p
kepanikan saya ternyata membuat orang-orang sempat melirik, sungguh memalukan :D 
yah, mbak kasir itu pun dengan berat hati berkata, "maaf ya mbak...harganya Rp.....(seharga dengan 1 buah kaos)". dan saya pun bengong.
tapi demi mempertanggungjawabkan apa yang sudah dilakukan, akhirnya terkuraslah dompet saya. padahal, apakah saudara saudari ingat bahwa saya datang ke sana tidak niat membeli apa-apa? ingat? yaa,bagus... :(
sebenarnya saya sempat menaksir sebuah dompet, tapi apa daya...saya harus rela melupakannya akibat tragedi si gelang patah.
setelah kejadian tersebut kami tidak berhenti menertawakan ulah saya, walaupun dengan perasaan miris. :p

 (sedihnya....HAHAHA)
  
yah...ketika orang-orang berakhir dengan beberapa tentengan belanjaan di tangannya dan perasaan puas membuncah di hatinya, ternyata saya harus mengalami keadaan berbeda....saya cukup berakhir dengan gelang patah di dalam tas saya (karena tidak bisa dipakai akibat tragedi pematahan :p)...ouuuhuhuhuhuu 








but it's OK, it's really OK... :) pengalaman berharga untuk seorang yang sangat ceroboh seperti saya. sebenarnya bisa saja saya kabur dan tidak bayar, tapi heyyyy....akan lebih memalukan lagi jika saya berakhir dengan dikejar-kejar bodyguard hanya gara-gara sebuah gelang...yakkks...


Anyway, pelajaran untuk moment itu adalah...
1. bertanggung jawab atas apa yang sudah kita perbuat
2. Hati-hati, jangan sembarang coba-coba, terutama jika anda adalah si pembawa bencana :D
   
»»  read more

November 21, 2009

Berbeda = Ditinggalkan (???)

November 21, 2009 6



Perjalanan pagi menjelang siang saya dalam dunia maya ternyata menimbulkan efek berkaca-kaca pada mata saya. sebuah artikel mengenai nasib seseorang membuat saya teringat moment menyebalkan yang saya alami di masa kecil. tulisan yang saya temukan di KOMPAS.com -secara tidak sengaja- ini  berisi mengenai penuturan seseorang bernama Sri Andiani, pelajar SMP Alam Insan Mulia Surabaya, yang memenangkan penghargaan Penulis Muda Indonesia 2009 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Perwakilan UNICEF di Indonesia, serta YKAI. 
Sri adalah seorang tuna rungu sejak lahir, yang dengan bantuan Mamanya berusaha mati-matian demi diterima di sekolah umum. usaha mereka berkali-kali berbuah kegagalan karena jarang sekali sekolah umum yang mau menerima keadaan Sri dengan tangan terbuka. sekalipun ada, sekolah itu akan merekomendasikan seorang guru pendamping yang biayanya Masya Alloh (baca: mengejutkan)...
sampai akhirnya Sri mendapatkan sebuah kesempatan untuk bersekolah di suatu sekolah umum -ya, akhirnya ada juga yang bisa menerimanya-. ternyata sekolah tersebut memberinya kesempatan untuk unjuk kebolehan. julukan 'profesor sains' pun dia dapatkan akibat kejeniusannya. dan ternyata, Sri juga piawai dalam melukis!
dalam baris-baris terakhir tulisannya, Sri mengungkapkan kekecewaannya mengenai keadaan sekolah di Indonesia. 


"...Jadi, memang, hanya orang-orang yang berduit alias kaya saja yang bisa bersekolah. Sementara itu, orang-orang yang standar hidupnya menengah, apalagi yang rendah, itu tidak bisa bersekolah lantaran banyak sekolah umum yang tidak mau menerima mereka."  


Wow! beginilah negara kita...apa yang terjadi dengan pihak-pihak tersebut sampai tidak sanggup menerima orang-orang seperti Sri dan yang lain-lainnya?
Sri memang berbeda, tapi bukan berarti tidak punya hal untuk bersekolah bukan ?


kasus 'perbedaan' lainnya juga pernah saya alami -walaupun tidak seekstrim dan seluar-biasa Sri- . mungkin akan lebih baik jika saya bertutur sedikit...


waktu belajar di taman kanak-kanak (TK), mungkin beberapa orang pernah mengalami, ketika guru kita memberi instruksi untuk menggambar pemadangan dengan bebas, saya katakan sekali lagi, ya... BEBAS! 
saat itu saya benar-benar memaknai apa yang disebut dengan bebas. berarti saya diperbolehkan mencorat-coret apapun yang saya anggap sebagai pemandangan. 
Anda semua pasti ingat seperti apa karakteristik pemandangan yang menjadi dogma kala itu. dua gunung berbentuk segi tiga dilengkapi matahari yang mengintip di antara keduanya. tak lupa burung berbentuk huruf M dan padi-padi yang berbentuk huruf V menyemarakkan ilustrasi dari apa yang dinamakan sebagai pemandangan. 
saat itu saya menggambar hal lain, yang lebih saya anggap sebagai pemandangan. bagi saya saat itu, pemandangan saya tafsirkan sebagai gunung tinggi menjulang dan seseorang berdiri di puncaknya (seseorang itu saya anggap saya :) ) sambil merentangkan tangan. entah apa yang ada di pikiran saya, tapi itulah yang saya kerjakan. 
ketika masing-masing karya dikumpulkan kepada guru, karya saya ternyata banyak menuai protes. "ini gambar apa?ini BUKAN pemandangan", salah satu guru saya berkomentar.
saya memang anak kecil yang sensitif saat itu, dan kata-kata itu jelas menghancurkan imajinasi saya. alasannya cuma satu, ya...karena karya saya berbeda dengan yang lain. ingin rasanya saya protes habis-habisan. tapi apa daya, nampak diri saya pada masa itu adalah anak kecil yang pendiam, lugu, dan penakut. kasus lain juga saya alami ketika di bangku sekolah dasar. dimarahi habis-habisan karena saya kurang mahir menjahit menjadi contoh kecil dari kisah saya pada masa itu. 
sedih? jelas! 
saya bergumul habis-habisan dengan perasaan bingung karena sepertinya dunia menuntut banyak hal untuk dikuasai oleh anak kecil seperti saya pada masa itu. 
yang hapal = pintar, yang pintar berhitung = jenius, dan yang gemar berimajinasi = aneh...
saya sempat menemukan sebuah tulisan yang membuat saya merinding ketika membacanya...


Tentang sekolah
Anonim

Sudah lama dia ingin mengatakan banyak hal. Tapi, tak ada yang mengerti.
Sudah lama dia ingin menjelaskan banyak hal. Tapi, tak ada yang peduli. Karena itu, dia menggambar saja.
Kadang-kadang, dia hanya mau menggambar dan gambar itu bukan apa-apa.
Dia ingin mengukirnya di atas batu atau menuliskannya di langit.
Dia akan berbaring di rumput dan menatap langit, hanya dia bersama langit serta semua yang ada di dalam jiwanya yang butuh diutarakan.
Dan setelah itu, barulah dia menggambar. Sebuah gambar yang indah.
Dia menyimpannya di bawah bantal dan tidak mengizinkan siapa pun untuk melihatnya.
Dan, dia akan memandangnya setiap malam dan memikirkannya.
Dan tatkala hari telah gelap, dan matanya sudah terpejam, dia masih bisa melihatnya.
Dan gambar itu, semua tentang dirinya. Dan dia sangat menyukainya.
Ketika berangkat sekolah, dia selalu membawanya.
Bukan untuk memperlihatkannya kepada seseorang, melainkan sekedar merasakannya berada di dekatnya seperti kawan.
Lucu rasanya tentang sekolah ini. Dia duduk di bangku kotak berwarna coklat.
Sama seperti semua bangku kotak dan coklat lainnya, padahal menurutnya seharusnya merah.
Dan, kelasnya juga berbentuk kotak dan berwarna cokelat.
Seperti semua kelas lainnya. Dan, itu tampak pengap dan tertutup, juga kaku, sementara guru terus-terus mengawasi.
Kemudian, dia harus menulis angka-angka. Padahal angka-angka itu bukan apa-apa.
Mereka lebih buruk daripada huruf-huruf yang jika digabungkan bisa memberi makna.
Sedangkan angka-angka itu jelek dan kotak dan dia membenci semua itu.
Bu guru datang dan berbicara kepadanya, menyuruhnya memakai dasi seperti anak lelaki yang lain.
Dia bilang tidak suka dan bu guru bilang itu tak masalah.
Setelah itu, mereka menggambar. Dan, dia menggambar warna kuning semuanya karena begitulah yang dirasakannya tentang pagi hari.
Dan, gambarnya indah sekali. Bu guru datang dan tersenyum kepadanya.
“apa ini?”, tanyanya. “mengapa kamu tidak menggambar seperti gambar Ken? bukankah gambar itu bagus?”. Semuanya pertanyaan.
Setelah itu, ibunya membelikan dasi untuknya dan dia selalu menggambar pesawat terbang dan roket seperti yang digambar anak-anak lainnya.
Maka, dia pun membuang gambar yang lama.
Dan, ketika dia berbaring sendirian memandang langit yang tampak besar dan biru, dan semuanya terlihat sama, kecuali dirinya yang tak lagi sama.
Dia sudah menjadi kotak di dalam dan juga cokelat, dan kedua tangannya kaku,dan dia menjadi seperti anak-anak lainnya.
Dan, sesuatu yang ada dalam dirinya yang tadinya butuh untuk diutarakan, kini tak perlu diutarakan lagi.
Sesuatu itu telah berhenti mendesaknya. Hancur. Kaku.
Seperti yang lain-lainnya juga.

(Diyakini bahwa siswa remaja yang telah menulis puisi ini bunuh diri dua minggu kemudian)

(Barbara Prashnig, The Power of Learning Styles ) 


rupanya  siswa tersebut juga mengalami sindrom perbedaan...


yahh,,,mari kita tarik napas dalam-dalam... dan hembuskan...
dan mulai atau kembali memikirkan mengenai mereka-mereka yang berbeda...
berbeda dalam berbagai hal, hingga kadang dikategorikan ke dalam kata aneh...
mungkin saya perlu mengingatkan kembali sebuah quote menarik yang pernah saya kutip dalam salah satu post  


 "a bit different is better than a bit better"


tidak selamanya berbeda itu salah...
semua orang toh dilahirkan dengan keunikannya masing-masing...
semua agama mengajarkan umatnya masing-masing untuk saling mengasihi tanpa pandang bulu, saya yakin itu...
mengapa kita baru akan saling memberi dan menerima hanya karena alasan asalkan-kita-sama?


mari berpikir bersama-sama...
standing applause untuk Sri dan Sri-Sri yang lain...




»»  read more

November 18, 2009

Renungan tanpa secangkir kopi....

November 18, 2009 1
aku terduduk di balik jendela sambil memandang langit di luar sana...
menatap bulan yang menyembul dikelilingi bintang...
perasaan nyaman menyelimuti, karena berpikir seolah aku memiliki bulan dan berjuta bintang sekaligus dalam kotak kaca yang sangat besar...
atau jangan-jangan, justru bulan dan bintang sedang menertawakan aku yang terjebak di dalam aquarium besar ini sambil menatap mereka terkagum-kagum?...
kuputuskan saja untuk membuka jendela lebar-lebar, hingga tak ada batas antara aku dan mereka...
yah,,cukup...
suasana ini sudah cukup untuk membuatku nyaman...
walaupun aku (pada akhirnya) mengurungkan niat untuk mengharapkan kunang-kunang hadir menyempurnakan malam ini...

mulailah berkecamuk...
pikiran-pikiran sepele hingga lamunan tingkat tinggi mulai berorasi dalam benak,
rintihan dan elegi-elegi tak jelas pun mulai berteriak ingin diperhatikan,
pertarungan antara logika dan perasaan kembali terjadi, hingga aku hanya tersenyum melihat mereka berkelahi...
mereka semua bermunculan,
antara memberi dan mengasihi
antara mencaci dan memuji
antara menerima dan menolak
antara pertahanan dan penyerangan
antara cinta dan benci
antara bersama dan sendiri
antara menang dan kalah
antara masa lalu dan saat ini...

sungguh...
aku teringat akan pertanyaan itu...
'pernahkah kamu merasa kesepian?'
aku tersenyum, sambil kembali menatap bintang...
mengingat jawaban-jawaban yg pernah aku utarakan...
semua orang pasti pernah merasa sepi,
apapun perkaranya...
tapi tidak untuk malam ini...
bahkan bintang pun bisa menemaniku saat ini...

aku beruntung,
betapa Tuhan memberikan berjuta serpihan takdir yang membuat hidupku lebih berwarna,
memberikan otak -yang sekalipun bukan yg paling jenius- untuk berpikir mengenai hidup,
dan perasaan -yang sekalipun melankolis- untuk menyadari kehadiran-Nya...

aku mengubah posisi duduk lebih dekat,
untuk merasakan angin berhembus di bawah atap langit...
beruntung malam ini hujan tidak datang...
tidak menghapuskan bulan dan bintang dengan awan gelapnya,
dan mengacaukan renunganku...


akhirnya,,,tanpa secangkir kopi,
aku biarkan kantuk itu datang...
mulai merasuk sambil mencoba menjauhkan aku dari bintang...
aku biarkan kantuk itu datang,
sambil tersenyum mensyukuri malam...
aku biarkan kantuk itu datang,
tanpa takut kehilangan semuanya...

ketika kantuk datang,
aku akan tetap ingat perkataannya,
aku akan tetap ingat perkataan mereka,
beruntunglah...
beruntunglah...
tak lagi terasa sepi...



- Senin, 8 Juni 2009 -
»»  read more
Related Posts with Thumbnails