August 11, 2011

R.I.P, K!

August 11, 2011
....................................................................................................
"Perjalanan mereka panjang dan mendaki. Sinar matahari yang terik terasa menusuk, hingga mereka berkeringat dan kehausan. Di kelokan jalan mereka melihat gerbang pualam yang sangat megah. Di balik gerbang itu ada sepetak tanah berlapis emas. Di tengahnya mengalir mata air yang sangat bening. Laki-laki itu menghampiri penjaga gerbang.



"'Selamat pagi."
"'Selamat pagi," sahut si penjaga.
"'Apa nama tempat yang indah ini?"
"'Surga."
"'Aku senang sekali melihatnya, karena kami sangat haus."
"'Silakan masuk dan minum sepuasnya." Penjaga itu menunjuk mata air.
"'Kuda dan anjingku juga kehausan."
"'Maaf," berkata si penjaga, 'di sini binatang tidak diizinkan masuk.'
Laki-laki itu sangat kecewa, sebab dia amat sangat kehausan. Tapi dia tidak ingin minum sendiri, jadi dia mengucapkan terima kasih dan meneruskan perjalanan. Setelah kecapekan karena harus berjalan mendaki lagi, mereka pun tiba di sebuah pintu gerbang tua yang mengantar mereka ke jalan tanah yang dibingkai pepohonan. Seorang laki-laki yang topinya ditarik hingga menutupi wajah, berbaring di bawah kerindangan sebatang pohon. Kelihatannya ia tidur.
"'Selamat pagi," ujar si musafir.
"'Orang itu menyapa dengan anggukan.
"'Kami sangat kehausan - aku, kudaku, dan anjingku."
"'Di antara bebatuan itu ada mata air." kata orang itu seraya menunjuk suatu tempat. 'Minumlah sepuasnya.'
Musafir itu, kuda, dan anjingnya pergi ke mata air dan memuaskan dahaga mereka.
Musafir itu kembali untuk mengucapkan terima kasih.
"'Kembalilah kapan saja kau menginginkannya." kata si penjaga.
"'Omong-omong, tempat apakah ini?"
"'Surga."
"'Surga? Tapi penjaga di pintu gerbang pualam di sana tadi mengatakan tempatnya itu surga!"
"'Itu bukan surga, tapi neraka."
Musafir itu bingung.
"'Seharusnya kau tak membiarkan orang lain menggunakan namamu! Informasi yang salah bisa menimbulkan kebingungan!"
"'Sebaliknya, perbuatan mereka itu sebenarnya membantu kami. Karena orang-orang yang tinggal di sana adalah mereka yang terbukti sanggup meninggalkan sahabat-sahabat mereka."  
- Paulo Coelho (The Devil and Miss Prym)
......................................................................................................................

Tiba-tiba aku teringat si anjing kampung kesayanganku dan para tetangga.
Sebenarnya aku tak begitu yakin perihal darah apa yang terkandung di tubuhnya. Entah kampung, entah ras. Yang jelas, anjing itu menjadi bertampang 'kampung' (setidaknya begitu penilaian orang sekitar) karena tidak terawat. Padahal bisa dipastikan tampangnya lumayan mirip dengan anjing ras jenis golden retriever. Ah, tak peduli dia mongoloid atau kaukasoid, anjing itu anjing terhebat yang pernah kujumpai (dan ternyata setelah kuingat-ingat, memang hanya dia yang pernah kupelihara selama hidupku. Tak ada yang lain yang bisa dibandingkan. Jelas saja dia yang terhebat.). 

Dia memang tidak secara resmi terpelihara. Tapi anjing itu seolah mengikatkan dirinya sendiri pada hidupku dan tetangga-tetanggaku. Seperti semacam kesetiaan yang tak pernah dipaksakan. Aku tak ingat betul bagaimana awalnya dia datang ke daerah kediamanku. Yang kuingat hanya sorot matanya saat pertama kali melihatku. "Maukah kau berteman denganku?", mungkin begitu maknanya.

Kami menjalani persahabatan yang cukup hening, tidak berisik seperti persahabatanku dengan kaum satu spesiesku. Setidaknya dia tak banyak berkomentar saat aku bercerita (jelas saja! dia hanya bisa menyalak!). Satu hal yang membuat aku dan beberapa tetanggaku menyukainya adalah sikapnya yang selalu ingin melindungi. Dia tak pernah absen mengantarku ke persimpangan jalan saat hendak pergi sekolah. Dia selalu menungguku pulang sholat tarawih di pinggir jalan. Dia bisa mengamuk jika tiba-tiba bahaya menghadangku.  Dan itu semua tidak hanya terjadi padaku, tapi pada kami semua, aku dan para tetangga.

Salah satu tetanggaku menamainya 'Komeng'. Entah artinya apa. Yang jelas penamaan tersebut tak ada hubungannya dengan pelawak yang sering kita lihat di televisi. Nama itu cukup membingungkan orang-orang yang tidak tinggal di sekitar kediaman kami. Ketika kami memanggil 'meng...meng...meng', yang muncul adalah seekor anjing, bukan kucing. Jelas itu cukup membingungkan mereka. Suatu saat Komeng pernah menghilang selama beberapa waktu. Kami sempat kehilangan dan kesepian. Tidak ada gonggongan khasnya saat menghadapi tukang sayur yang ditakutinya setiap pagi. Sepi. 

Hingga tiba-tiba dia muncul sambil membawa betina dan 3 anak anjing (Apa-apaan ini?). Aku dan tetanggaku sempat berkomentar, selera si Komeng tidak terlalu bagus rupanya. Ah, mungkin itu yang dimaksud pepatah 'love is blind'. Kami pun hanya berdecak sambil tertawa memperhatikan mereka. Ternyata tak berapa lama si betina angkat kaki dari daerah kediaman kami. Dia membawa serta ketiga anaknya. Entah apa yang dilakukan Komeng hingga si betina tak lagi betah. Sialnya aku tak sempat menculik anaknya barang seekor. Ah, kalau itu terjadi, sungguh tega sekali aku ini :))

Yang membuat kami terkejut adalah sikap si Komeng yang cerah ceria seperti tak terjadi apa-apa. Begitu santainya ditinggal sang betina. "Ah, gayanya sudah seperti om-om senang yang tak mau bertanggung jawab", kami selalu menertawakannya. Tapi terlepas dari semua itu, kami lega. "Selamat datang kembali, Komeng".

***
Akhirnya, perpisahan itu datang juga. Suatu hari Komeng pergi entah ke mana. Aku baru mengetahuinya dua hari kemudian setelah aku pergi ke suatu tempat. Ternyata dia tidak pernah kembali lagi hingga sekarang. Beberapa hari setelah kepergiannya aku masih sering mendengar lolongan khasnya di suatu tempat. Walaupun aku tak yakin benar suara itu milik siapa. Kabarnya, seekor anjing selalu mendapat firasat ketika ajalnya hampir tiba. Biasanya ia pergi meninggalkan sahabat manusianya diam-diam, agar yang ditinggalkan tidak terlalu sedih, katanya. 


R.I.P , dear Komeng...
Sayangnya aku tak tahu di mana pusaramu.



*Ah, lagi-lagi kenangan :)



3 comments:

exort

jd keinget kisahnya hachiko

Aulawi Ahmad

sama kayak anjingku dulu, anjing kampung :) dia meninggal pas ketika kami sekeluarga mau pindah, hmm mgkn emang benar insting mereka itu :)

Elly Suryani

Hm, kasihan komeng. Saya juga suka Paulo C.

Post a Comment

Related Posts with Thumbnails